Senin, 17 Mei 2010

ETOS KERJA

ETOS KERJA
Oleh: anggota Paguyuban Majapahid

“Om Swastyastu, Om Anubadrah Kratawo yantu wiswatah.”
“Om Swastyastu”

Semoga semua pikiran yang baik datang dari segala penjuru dan kita semua selalu dalam keadaan selamat atas kerta wara nugraha Hyang Widhi.

Kita mungkin sering merasa capek dan lelah ketika melakukan tugas, hanya karena kurang bisa menikmati keasyikan melakukan suatu pekerjaan. Kita sering merasa melakukan sebuah pekerjaan hanya untuk menghasilkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup atau bahkan kebutuhan keluarga. Kita tidak pernah menyadari bahwa tidak seorang manusiapun dapat membebaskan dirinya dari ikatan kerja atau karma seperti yang dijelaskan dalam Bhagawadgita:

Na hi kascit ksanam api
jatu tisthaty akarma-krt
Karyate hy awasah karma
sarwah prakrti-jair gunah

Terjemahannya:
Tak seorangpun dapat tetap diam tanpa melakukan kegiatan kerja walau sesaat saja, karena setiap orang dibuat tak berdaya oleh kecendrungan-kecendrungan alam untuk melakukan kegiatan kerja (Maswinara, 1997:164).

Melalui sloka ini kita dapat memahami; bahwa selama manusia menjalani kehidupan di dunia ini, mereka tak dapat melepaskan dirinya dari kegiatan kerja, karena tanpa kerja kehidupan pun tak akan berlangsung. Kehidupan ini adalah kegiatan kerja itu sendiri, dan setiap kegiatan kerja membawa akibat masing-masing. Pernyataan ini dapat dipahami melalui sebuah realita bahwa manusia tidak dapat dikatakan hidup jika detak jantungnya berhenti, manusia tidak dapat dikatakan hidup jika darahnya berhenti mengalir, manusia tak dapat dikatakan hidup jika otaknya tidak memberikan respon terhadap keadaan disekelilingnya, apalagi jika nafasnya berhenti.

Orang kebanyakan salah kaprah bahwa dengan menjadi niskriya atau meninggalkan perbuatan dalam Tri Warga akan mencapai kebahagiaan. Orang yang salah kaprah seperti itu melihat kehidupan yang indah dalam obyek serba benda, wanita, kekayaan, kekuasaan, gaya hidup, perhiasan dan segala “lingkungan buatan” sebagai sarana pemuas yang dijadikan dasar atau standar untuk mengukur tingkat kehidupan yang bermartabat.

Tetapi phenomena itu tidak lebih sebagai obat kimiawi yang menurunkan kadar gula dalam darah seorang penderita diabetes untuk sementara waktu ; tetapi setelah reaksi obat berhenti bekerja didalam tubuhnya, kadar gula penderita diabetes akan merangkak kembali ke stadium yang mengkawatirkan. Baru setelah mereka masuk kedalam atmotpher spiritual dan mengerti bahwa “kerja adalah sebuah kewajiban” maka dia akan dapat merasakan betapa indahnya hidup ini.

Dengan menyadari ”kerja sebagai suatu kewajiban” dan memasrahkan segala kegiatan kerja sebagai sebuah pengabdian maka, pada saat itu dia mulai meninggalkan “mutiara-mutiara palsu” yang selama ini menyilaukan mata batinnya, melalui kegiatan kerja orang akan memperoleh kebahagiaan. Begitu banyak contoh dari kehidupan para nastika atau atheis, yang akhirnya meninggalkan kehidupan glamour dan akhirnya tenggelam khusuk dalam kebahagiaan rohani setelah mengalami bahwa kebahagiaan sejati tergelar dihadirat Tuhan.

Demikian pentingnya kita meningkatkan etos kerja untuk meningkatkan produktivitas, kita tidak boleh berdiam diri, karena kita harus tetap ikut memutar roda kehidupan di jalan kebenaran. Cukup sekian wacana yang saya sampaikan, semoga bermanfaat. Selamat Hari Raya Galungan, semoga kebahagiaan senantiasa menyertai kita semua.

Om Shantih Shantih Shantih Om

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons